Popular Post

Posted by : bluefatamorgana.blogspot.com Kamis, 11 Desember 2014

MISTERI KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT 

SEBAGAI KEKAYAAN BUDAYA DUNIA



Yogyakarta kota penuh arti dan penuh kenangan ketika Anda pernah menghabiskan waktu Anda untuk berlibur atau singgah di Yogyakarta. Tak pernah habisnya untuk membicarakan kota tercinta ini dari segi budaya, wisata dan kulinernya. Satu hal yang kurang afdol apabila Anda ke Yogyakarta tidak berkunjung ke Kraton Yogyakarta. Serasa wajib untuk berkunjung dan menengok isi Kraton yang penuh misteri dan budaya tersebut.

Kraton berasal dari kata ka-ratu-an, yang berarti tempat tinggal ratu atau raja. Sedang arti lebih luas, diuraikan secara sederhana, bahwa seluruh struktur dan bangunan wilayah Kraton mengandung arti berkaitan dengan pandangan hidup Jawa yang essensial, yakni Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati).

Kraton Yogyakarta keberadaannya dibangun pada tahun 1756 Masehi oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I. Setelah melalui perjuangan yang sangat panjang pada tahun 1747-1755, akhirnya tercetus perjanjian Giyanti yang memisahkan wilayah Mataram sehingga terbagi menjadi dua, wilayah di sebelah timur kali Opak dikuasai oleh pewaris tahta Mataram yaitu Sunan Paku Buwono III dan tetap berkedudukan di Surakarta, sementara wilayah di sebelah barat diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi dan sekaligus di angkat menjadi Sultan Hamengkubuwono I yang berkedudukan di Yogyakarta.

Apabila dilihat dari tata letak Kraton dan wilayah-wilayah lainnya, maka akan menjadi suatu garis imajiner yang menghubungkan antara Kraton dan daerah lainnya (Laut Selatan - Krapyak - Kraton – Tugu – Gunung Merapi). Seperti apa misteri garis imajiner ini, dan sampai sekarang kesimpulannya masih belum pasti. Misteri ini mari coba kita pelajari satu persatu, sehingga rasa penasaran kita tak hanya bertanya-tanya saja.

Kraton Yogyakarta memiliki 7 bangsal yang terdiri atas masing-masing bangsal yang dibatasi dengan regol atau pintu masuk. Ke-enam regol adalah Regol Bronjonolo, Sri Manganti,  Danapratopo, Kemangangan, Gadungmlati dan Kemandungan. Kraton diapit oleh dua alun-alun yaitu Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan dengan masing-masing luas alun-alun berukuran kurang lebih 100x100 meter, maka secara keseluruhan Kraton Yogyakarta berdiri diatas tanah 1,5 km persegi.

Bangunan inti Kraton Yogyakarta dibentengi oleh tembok ganda setinggi 3,5 meter berbentuk bujur sangkar (1.000 x 1.000 meter), sehingga untuk memasuki wilayah Kraton harus melewati pintu gerbang yang disebut Plengkung. Terdapat 5 gerbang Plengkung, antara lain : Plengkung Tarunasura (Plengkung Wijilan) di sebelah timur laut Keraton, Plengkung Jogosuro (Plengkung Ngasem) di sebelah barat daya, Plengkung Joyoboyo (Plengkung Tamansari) di sebelah barat, Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) di sebelah selatan, dan Plengkung Tambakboyo (Plengkung Gondomanan) di sebelah timur.

Dalam benteng, khususnya yang berada di sebelah selatan dilengkapi jalan kecil yang berfungsi untuk mobilisasi prajurit dan persenjataan. Keempat sudut benteng dibuat bastion yang dilengkapi dengan lubang kecil yang berfungsi untuk mengintai musuh.

Penjaga benteng diserahkan pada prajurit kraton di antaranya, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Mantrijero, dan Prajurit Bugis. Prajurit Jogokaryo mempunyai bendera Papasan dan tinggal di Kampung Jogokaryan. Prajurit Mantrijero dilengkapi dengan Bendera Kesatuan Purnomosidi dan tinggal di Kampung Mantrijeron. Prajurit Bugis yang berbendera Kesatuan Wulandari tinggal di Kampung Bugisan.

Melihat garis imajiner, maka wilayah Keraton kea rah selatan dari Laut Selatan – Krapyak dan ke utara sampai Tugu – Gunung Merapi terdapat garis dualisme terbalik sehingga bisa terbaca simbolik filsofis. Dari arah selatan ke utara merupakan penggambaran sebagai lahirnya manusia dari tempat tinggi ke alam fana dan sebaliknya sebagai proses kembalinya manusi pada sisi Sang Pencipta. Sedangkan Kraton diibaratkan sebagai jasmani dengan raja sebagai lambang jiwa sejati yang hadir ke dalam badan jasmani.

Kemudian Kraton menuju Tugu hingga ke utara diartikan sebagai jalan hidup yang penuh dengan godaan. Kita ibaratkan Pasar Beringharjo melambangkan godaan wanita, sedangkan godaan kekuasaan dilambangkan melalui Gedung Kepatihan, dan jalan lurus dari Tugu hingga Gunung Merapi diibaratkan sebagai jalan lurus lambang manusia yang dekat dengan Sang Pencipta.

Dari segi misteri dan budaya Kraton Yogyakarta hal ini termasuk warisan budaya Indonesia yang wajib untuk dipertahankan, selain itu Kraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya, sehingga tidak mengherankan jika banyak nilai atau unsur-unsur yang mengadung mitologi yang menyelubungi Kraton Yogyakata sehingga menarik wisatawan dalam maupun luar negeri dan menjadi kekayaan budaya dunia.



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © My Life is an Adventure - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -