Popular Post

Posted by : bluefatamorgana.blogspot.com Selasa, 02 Desember 2014

STORY OF YOGYAKARTA


Siapa yang cinta Jogja? Yes, tentu Yogyakarta merupakan kota yang menjadi daerah tujuan wisata yang menarik, sehingga siapa saja pasti cinta Jogja baik orang yang tinggal di Jogja, wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Cinta Jogja itu wajib setelah kalian mengenal dan merasakan tinggal di Yogyakarta. Tak afdol apabila kalian cinta Jogja, namun tidak mengetahui asal usul tentang sejarah adanya Yogyakarta. 

Mari simak, seperti apa hingga ada dan tercetus nama Yogyakarta. Menurut Babad Gianti, istilah nama Yogyakarta atau Ngayogyakarta (dalam bahasa Jawa) yang berarti Yogya yang kerta, yang makmur sedangkan Ngayogyakarta Hadiningrat berarti Yogya yang makmur dan yang paling utama. Nama cikal bakal Yogyakarta dicetuskan oleh Paku Buwono II (Raja Mataram Tahun 1917 – 1727). Setelah mengetahui nyuosama Yogyakarta, mari kita flash back tarik ulur ke tahun 1582, dimana pada masa tersebut berdiri Kerajaan Mataram Islam yang terletak di daerah Kotagedhe sebelah tenggara kota Yogyakarta, dan pada saat itu dipimpin oleh suatu dinasti keturunan ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan yang mengklaim masih keturunan penguasa Majapahit. Menurut asal usulnya tentang kerajaan ini, kerajaan ini berasal dari sebuah kadipaten dibawah Kesultanan Pajang, saat itu dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya yang berpusat di Bumi Mentaok yang diberikan kepada ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas jasanya mengalahkan Arya Penangsan. Kemudian pada saat itu Ki Ageng Pemanahan dibantu oleh beberapa rekannya seperti Ki Ageng Karanglo untuk melakukan pembangunan kerajaan di daerah yang berpusat di Pleret tersebut dan juga mempersiapkan strategi untuk menundukkan siapa saja yang menentang kehadirannya. Namun dalam pembangunannya terdapat tanggapan yang kurang dari penguasa setempat seperti Ki Ageng Giring, Ki Ageng Tembayat dan Ki Ageng Mangir. Meskipun seperti itu, tak kenal menyerah Ki Ageng Pemanahan untuk mewujudkan cita-citanya membangun suatu kerajaan.

Pada tahun 1575 Ki Ageng Pemanahan meninggal dunia, oleh sebab itu digantikan oleh putranya yang bernama Sutawijaya atau Pangerang Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya mempunyai itikad untuk keluar dari baying-bayang Pajang dan ingin berdiri sendiri, oleh karena itu sempat terjadi hubungan yang memburuk antara Pajang dan Mataram sehingga terjadi peperangan antara Sutawijaya dan Sultan Hadiwijaya. Ternyata bendera kemanangan di rebut oleh Sutawijaya sehingga Sutawijaya mengangkat dirinya menjadi Raja Mataram dengan bergelar Panembahan Senopati. Karena kemenangannya semua pusat pemerintahan dipindahkan ke Kotagedhe, kemudian pada tahun 1590 kerajaan Mataram mulai melakukan ekspansi penaklukan kerajaan- kerajaan terdekat seperti Madiun, Jipang, Kediri, Pasuruan dan hingga Tuban. Sebagai Raja Islam yang baru, Sutawijaya mempunyai tekad untuk menjadikan Mataram sebagai pusat budaya dan agama islam sebagai penerus kesultanan Demak. Pada kala itu Kerajaan Mataram Islam menganut sistem Dewa – Raja, yang berarti semua kekuasaan multak berada pada tangan Sultan. Sutan Wijaya meninggal dan dimakamkan di Kotagedhe, sehingga kekuasaan digantikan oleh putranya yang bernama Mas Jolang yang bergelar Prabu Hanyokrowati, pada masa itu tidak banyak mengalami kemajuan dan digantikan oleh putra keempatnya yang bergelar Adipati Martoputro, namun Adipati Martoputro menderita penyakit syaraf maka tahta beralih ke putra sulung Mas Jolang yang bernama Raden Mas Rangsang, pada masa kepemimpinan Raden Mas Rangsang mengalamu masa kemajuan dan masa keemasan.

Pada tahun 1640 sehabis dari Mekah beliau menyandang gelar “Sultan Agung Senopati Ing Alaga Abdurrahman” dan beliau memindahkan lokasi kraton ke “Karta” akibat terjadi gesekan antara VOC. Setelah Sultan Agung meninggal, maka digantikan putra beliau yang bernama Amangkurat I, pada masa itu kerajaan Mataram kurang stabil karena banyak ketidakpuasan dan pemberontakkan. Pemberontakkan terbesar itu terjadi atas seorang dari bangsawan Madura yang bernama Trunajaya yang akhirnya berhasil mengalahkan Mataram. Setelah Amangkurat I meninggal, maka digantikan oleh anaknya yang bernama Amangkurat II dan berkerjasama dengan VOC untuk mengalahkan Trunajaya. Kemenangan pun dimenangkan oleh Amangkurat II berkat kerjasama dengan VOC. Dalam masa itu Amangkurat II sangat patuh kepada VOC, sehingga menimbulkan ketidakpuasan dikalangan istana dan akhirnya banyak pemberontakkan terjadi, oleh sebab itu pada tahun 1680 keraton Mataram dipindahkan ke Kartasura. Amangkurat meninggal dan digantikan oleh Amangkurat III, namun VOC tidak senang dengan Amangkurat III karena sangat menentang VOC sehingga VOC mengakat Pakubuwono I sebagai raja. Hal tersebut berakibat Mataram memiliki dua raja yang menyebabkan perpecahan internal. Akhirnya Amangkurat III melakukan pemberontakkan kepada VOC, namun karena kekuatan VOC yang sangat kuat maka  Amangkurat III mengalami kekalahan dan ditangkap kemudian diasingkan ke Ceylon, Srilanka sampai beliau meninggal.

Pada masa ke masa selalu terjadi kekacauan politik yang tidak dapat terselesaikan, akhirnya pada masa Paku Buwono III pada 13 Februari 1755 tercetuslah Perjanjian Giyanti yang menyepakati bahwa wilayah Mataram dibagi menjadi dua, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kesepakatan tersebut diboncengi oleh VOC, pihak Mataram di wakili oleh Paku Buwono III dan kelompok Pangeran Mangkubumi. Berdasarkan pada perjanjian tersebut wilayah Mataram terbagi menjadi dua, wilayah di sebelah timur kali Opak dikuasai oleh pewaris tahta Mataram yaitu Sunan Paku Buwono III dan tetap berkedudukan di Surakarta, sementara wilayah di sebelah barat diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi dan sekaligus di angkat menjadi Sultan Hamengkubuwono I yang berkedudukan di Yogyakarta. Perpecahan selalu terjadi ditubuh kerajaan Mataram yang selalu memperebutkan kekuasaan dibawah pengaruh VOC dan politik devide et empera, sehingga terdapat munculnya Mangkunegara (R. M Said) yang terlepas dari kasunanan Surakarta dan Pakualaman (P. Nata Kusuma), sehingga wilayah wilayah Yogyakarta dibagi menjadi dua kembali antara Kasultanan Yogyakarta dan Pakualam.


Setelah membaca Story of Yogyakarta, apa yang Anda pikirkan? Bangga dan hebat kan ketika melihat perjuangan tokoh-tokoh perintis kota Yogyakarta. Kita sebagai generasi penerus di era saat ini, mari warnai dan ciptakan kota Yogyakarta dengan penuh cinta, damai dan berbudaya sehingga nama Yogyakarta selalu harum di mata nasional maupun Internasional.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © My Life is an Adventure - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -